Tak Perlu Pindah ke Meikarta Kalau Ingin Hidup Santai

Tak Perlu Pindah ke Meikarta Kalau Ingin Hidup Santai

Di tengah tuntutan hidup yang bergerak sangat cepat, banyak anak-anak muda “Jaman Now” yang terjun ke dalam jurang depresi. Inilah mengapa kalimat “aku ingin pindah ke Meikarta” menjadi viral dimana – mana.

Viralnya narasi iklan dari perusahaan property Lippo Group ini menandakan bahwa anak muda mempunyai kecendrungan, menginginkan hidup yang lebih santai seperti di Meikarta.

Ya, tujuan Meikarta dihadirkan sebagai penunjang terciptanya gaya hidup yang mengadopsi filosofi slow living, atau hidup lambat. Misalnya saja dengan dibangunya central park, atau taman luas yang konon kabarnya menyamai Central Park nya New York.

Pembangunan central park ini meniru gaya hidup slow living. Dimana taman yang luas ini mencoba menghadirkan suasana alam raya pedesaan yang tenang, serta bebas polusi.

Selain itu, pembangunan alat transportasi kereta anti macet juga lagi-lagi meniru gaya hidup slow living. Suasana kota-kota besar seperti di Jakarta, Bekasi, dan Tanggerang selama ini di identikan sebagai kota kemacetan.

Sedangkan siapa si yang ingin berlama-lama terjebak macet, sudah berangkat terlambat pergi ke kantor. Ini jalanan malah macet, suasana di kerubuti macet seperti ini tentu akan membuat hidup diliputi kecemasan.

Inilah yang ditangkap jeli oleh Lipo group. Dalam hal ini, hunian Meikarta diciptakan tak lain untuk mengobati orang-orang kota yang hidup dalam kondisi stress berat, menjadi lebih slow dalam memaknai kehidupan.

Sayangnya, kalangan menengah kebawah tidak bisa mengakses hunian yang mewah ini, harganya selangit. Butuh uang sebanyak ratusan juta untuk membeli salah satu apartemennya.

Alih-alih bilang “aku ingin pindah ke Meikarta” ngomongnya berubah “ aku ingin pindah ke rumah mertua”. Walah.

Tapi tak perlu khawatir, gaya hidup santai itu sebetulnya bukan milik Meikarta saja. Ada kehidupan yang jauh lebih santai, dan nyaman. Yaitu hidup di Pedesaan. Ya pedesaan.

Selain alam raya nya yang hijau, tak kalah dengan central park nya Meikarta. Pedesaan juga memiliki tipologi  masyarakat yang tidak individualistik.

Jangan kaget manakala kamu dibawakan singkong rebus oleh tetangga sebelah yang kebetulan sedang panen. Saling memberi makanan kepada tetangga, memang lazim ditemui di kehidupan pedesaan. Asik kan. Selain itu kamu perlu belajar dari filosofi santai orang-orang desa dalam bekerja. Mereka ketika bekerja tak pernah “ngoyo”, atau menggebu-nggebu. Gaya bekerja seperti Ini penting untuk di praktikan oleh orang-orang kota.

Ya memang bekerja dengan sangat giat bisa cepat mendatangkan kekayaan hidup, tapi siapa sangka dari pekerjaan yang ngotot itu membuatmu menjadi jatuh sakit. Uang yang kamu tabung akhirnya digunakan untuk membayar biaya pengobatan yang lebih mahal.

Negara Jepang sudah menyadari itu, dalam beberapa dasawarsa belakangan. Pemerintah Jepang mulai berupaya menurunkan lamanya jam kerja. Ini menandakan Jepang sudah mulai meminati gaya hidup slow living yang jauh dari gangguan stress.

COMMENTS